Pages

Jumat, 21 Februari 2014

KURSI KOSONG SAAT INI

Aku pernah berada di sini sebelumnya
saatitu
sama seperti kini
di bawah pohon teduh
beratap langit dengan bintang-bintang yang tersenyum
menyapa setiap kepingan memori
mengusapnya menjadi cahaya yang abadi

Yang berbeda dari saat itu
dari hari ini
pohon-pohon semakin banyak yang berjalan pergi
dan bintang-bintang enggan datang setelah hujan
tak seikit daun berguguran
terbang bersama angin
yang sama dari saat itu
hanya satu
aku
masih duduk di kursi ini
sama seperti waktu itu...

Yang tersisa dari saat itu
harapan untuk hari ini
semoga lahir aku dari kursi-kursi yang kosong
semoga aku menjadi seribu....



Samarinda, 21 Februari 2014
00.21 wita

Rabu, 20 November 2013

Ngobrolin Nikah, Cerai dan Anak_1

setiap pernikahan gak ada jaminan bakal langgeng hingga maut memisahkan, tapi paling gak ada upaya untuk menuju kearah sana.
saya salah satu anak yang lahir dari keluarga yang berpisah.
hari ini gak pengen dengar pendapat orang tentang pengalaman orang lain juga tentang perceraian, cuma pengen giving freedom for myself untuk ngungkapin pengalaman saya sebagai salah satu dari banyak anak yang mengalami hal yang sama.
anggap aja sharing buat siapa aja para pembaca yang nantinya juga bakal menempuh hidup baru sebagai pasangan suami istri, punya anak, punya tanggung jawab.
dalam pandangan saya ya, gak peduli orang tua yang berpisah secara baik, dalam damai, tanpa persselisihan atau justru sebaliknya, yang namanya perceraian pasti gak baik buat anak mereka, mau anak tunggal, 2 anak, apalagi banyak, gak ada yang baik.
kondisi psikologis terutama.
ini pengalaman saya.
hari ini saya berani bilang, saya rada-rada takut untuk ngobrol sama orang tentang yang namanya pernikahan. walaupun jujur saja, setiap orang juga pasti seneng kalo liat ada kakek sama nenek yang akur banget jalan pegangan tangan di trotoar, meski mereka gak tersenyum, tapi pasti mata yang memandang justru yang lebih banyak mengumbarkan senyuman.

Rabu, 16 Oktober 2013

Puisi Ini Masih Panjang

pembunuhan yang paling keji adalah membuang yang sudah dilahirkan...

Selasa, 10 September 2013

Bundaran Agus Salim

Dunia malam ya kaya gini, kaya yang lagi nampang di depan mata nie.

Kebetulan, sekarang lagi nangkring di pojokan nasi goreng, pas di bundaran simpang empat agus salim. Pulang kerja, nyari ayam bakar lunak udah gak nemu, berlabuh dah di bundaran agus salim nie. Tempatnya sederhana, cuma warung pinggiran gitu aja, tapi pas lewat, aduuuuuuuu,,,,, tu aroma nasi goreng kok sedap banget ya? Mampir dah jadinya...

"Pak, nasi gorengnya satu ya..."
Sembari nunggu nasi goreng nan sedap aromanya nie, mata gak berenti mandangin lampu-lampu liar pegendara yang datang dari 4 sudut berbeda, ada yang nekat nantang maut, ada yang gak peduli sama yang depan apalagi belakang, ada yang gak tau diri ngebut seenak jalan kaya punya emaknya, adanya yang buta warna gak bisa bedain trafic light, ada-ada aja dah pokoknya. heheheeee....

Tapi satu hal baru yang saya sadari nie, ternya nie bundaran selain kaya akan pengendara liar yang sok punya nyawa kaya kucing, anak-anak jalanan yang mangkal di sini juga ternyata ampe jam selarut ini masih ada loh.... Padahal setahu saya, di lokasi-lokasi jalan yang lain, udah pada diangkut tu bocah-bocah. Tapi di jalan ini, tu bocah malah kaya baru keluar dari sarang. ckckckck....

Dan satu hal lagi pengguna jalan di daerah ini lumayan elit juga, klo mau paksain nyebutnya. Karena sepanjang yang saya perhatiin, kendaraan yang lalu lalang daritadi pasti disayang banget sama yang punya, bisa menangis darah klo lecet tu kendaraan, tapi begonya kenapa juga tu kendaraan masih dibawa ngebut-ngebutan? Nah, gak paham dah saya...


"ini mba nasinya. minumnya apa?"
"es teh ya pak. makasih.."

Nha, berhubung nasi goreng saya sudah tersaji, ijinkan saya menyantapnya ya, dan mengakhiri artikel kecil tentang bundaran agus salim ini...

SAYONARA

free up your world with your words... ^_^

Rabu, 04 September 2013

Aku Mencintaimu, Senyuman....


Bukan salahku semakin malam semakin mencinta
yang menumbuhkan bayang itu
senyum yang kau suguhkan
kau petakan begitu nyata dalam alam bawah sadarku
bahkan dalam tatap mata yang nyata
saat kelopak masih terbuka
bayang yang tampak
hanya dirimu berdiri gagaj
menyuguhkan senyum khas apa adanya dirimu
Just the way you are

Semakin malam aku semakin gila
ribuan wacana yang lahir
semua teruntuk kau yang sekarang aku suka
kupuja seperti benda yang kucinta dan takkan kulepas
kupeluk selamanya
kujaga dalam singgasana hati yang sudah kau cipta

Jangan salahkan aku yang semakin cinta
kau jelas hadir setiap senja
sapaanku kau balas tawa mesra
canda yang kau suguh selalu mampu buatku tertawa
tak heran terkadang hatiku gemes juga
karena rasa ini hanya aku yang punya

Jangan salahkan aku karena jatuh cinta
setiap kali kucoba tutup lembaran
kau selalu hadir dalam kesederhanaan
sedikit curi pandang
tapi jelas, bayangku juga tak kau lepaskan
lekat kau jaga dalam lirikan
Mungkin kau pikir aku yang nakal
menggoda setiap malam
mengirimkan pesan-pesan celotehan alam
tapi siapa yang sebenarnya jadi korban
setiap kutekadkan untuk diam
selau kau kemudian memulai obrolan
aku lemah dan tak mampu marah
aku terlalu sayang pada sosokmu yang kupandang
hatiku menjerit, meronta, meneriakkan protes
saat tanganku siap kuangkat untuk menampar wajahmu
bagaimana mungkin aku bisa marah
bahkan hati kecilku menolak untuk menyakitimu
dan rela untuk terluka agar tetap melihat senyummu
lantas siapa yang sebenarnya salah???

Haruskah malam-malam ini kupersalahkan padanya
Atau cintakah si kambing hitam yang tertawa bahagia
mungkin justru aku saja yang terlampau mendamba
Atau apa yang sebenarnya kurasa???

GILA!
dengan sadar kunyatakan aku mulai gila
setiap malakulewati dalam tanya
aku selalu saja menerka dan menerka
sedang apa kau disana?
besok ada agenda apa?
kangen ga’ ya?
besok kalo ketemu harus berbuat apa?
Apa? Apa? Dan Apa???
ribuan apa ini yang semakin merusak otakku
aku dipaksa hidup dalam dilema
menghadapkanku pada pilihan
tapi mengapa setiap persimpangan harus kau hadirkan senyuman
mengapa harus kau berikan kekuatan
aku sudah angkat tangan
aku menyerah pada perasaanku yang jelas sudah tak bertuan
aku takut terjebak jauh lebih dalam
bukan karena aku tak punya pilihan
tapi justru kamulah sang pemenang
aku sudah terlanjur jatuh terlalu dalam
jatuh dalam pelukanmu, senyuman...

Aku Mencintaimu, Senyuman...


Rabu, 11 Januari 2012
03.05 wita
@rumah kayu

Copyright Text

Blogger news